Weda,Talentanews.com – Kekecewaan warga terhadap lambannya pengungkapan kasus pembunuhan mantan Kepala Desa Bobane Jaya, almarhum Ustadz Ali Daud, kembali memuncak. Untuk ketiga kalinya sejak kasus itu terjadi pada 2 April 2026, warga turun ke jalan dan memblokade akses penghubung Bobane–Remdi, Rabu (20/5/2026).
Aksi yang digelar Front Solidaritas Warga Banemo Melawan itu menyebabkan arus lalu lintas lumpuh total selama beberapa jam. Massa menuntut aparat kepolisian segera membuka perkembangan penyelidikan kasus pembunuhan sadis yang hingga kini belum juga menemukan titik terang.
Dalam orasinya, salah satu massa aksi, Rustam, menilai aparat penegak hukum tidak menunjukkan keseriusan dalam menangani kasus yang mengguncang masyarakat Patani Barat tersebut.
“Sudah 48 hari berlalu. Seorang mantan kepala desa ditemukan tewas dimutilasi di kebunnya sendiri, tetapi hingga saat ini pelaku belum juga diungkap,” tegas Rustam di hadapan massa.
Seperti diketahui, Ustadz Ali Daud ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan di area kebunnya di Desa Bobane Jaya. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi terkait perkembangan penyelidikan maupun identitas pelaku.
Mandeknya proses hukum memicu keresahan warga. Mereka mengaku kehilangan rasa aman karena kasus pembunuhan brutal itu belum terungkap sejak awal April lalu.
Blokade jalan berlangsung hingga sekitar pukul 17.37 WIT. Setelah itu, massa bersama pemerintah desa dari Banemo, Bobane Jaya, Bobane Remdi, dan Bobane Indah menggelar pertemuan di wilayah Kecamatan Patani Barat.
Dalam forum tersebut, warga mendesak Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah dan aparat kepolisian hadir langsung menemui massa untuk memberikan penjelasan. Namun hingga sore hari, tidak satu pun perwakilan pemerintah daerah maupun kepolisian muncul di lokasi aksi.
Ketidakhadiran itu memicu kekecewaan warga yang menilai aspirasi masyarakat diabaikan.
Sekitar pukul 17.45 WIT, pihak Kecamatan Patani Barat yang mewakili Camat Yunus Wele menyampaikan bahwa mereka telah berkoordinasi dengan Wakil Bupati Halmahera Tengah, Ahlan Djumadil. Dalam hasil koordinasi tersebut, wakil bupati dijadwalkan menemui massa aksi di Kantor Kecamatan Patani Barat pada Kamis (21/5/2026).
Koordinator aksi, Aslan Sarifudin, menegaskan warga akan terus mengawal kasus itu hingga pelaku berhasil ditangkap.
“Ini sudah aksi ketiga. Warga turun ke jalan bukan untuk membuat kekacauan, tetapi karena keadilan dinilai berjalan lambat. Jika kasus ini terus dibiarkan tanpa kejelasan, kekecewaan masyarakat akan semakin besar,” ujar Aslan.
Menurutnya, masyarakat Patani Barat hanya menuntut kepastian hukum dan transparansi penanganan kasus pembunuhan yang telah mengguncang rasa aman warga selama hampir dua bulan terakhir.(*)








