Weda,Talentanews.com- Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Pulau Gebe diwarnai keresahan mendalam. Kebijakan pemerintah pusat yang memangkas kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sektor pertambangan dinilai langsung memukul aktivitas industri dan mengancam mata pencaharian ribuan pekerja di wilayah tersebut.

Pemangkasan RKAB berdampak cepat. Aktivitas tambang melambat, perputaran ekonomi lokal tersendat, dan pelaku usaha kecil mulai kehilangan pelanggan. Kondisi ini memicu kekhawatiran luas, terutama di wilayah lingkar tambang yang sangat bergantung pada industri tersebut.

Situasi ini mendorong munculnya gerakan pemuda lintas desa yang tergabung dalam Gerakan Anak Muda Peduli Pulau Gebe (GAMPI Gebe). Mereka menilai kebijakan pusat tidak sensitif terhadap dampak sosial-ekonomi di daerah yang bertumpu pada sektor strategis seperti pertambangan.

Koordinator GAMPI Gebe, Ibnu Mulkam, menegaskan bahwa perlambatan industri telah menciptakan efek domino yang serius. “Saat tambang tersendat, perputaran uang melemah. Buruh kehilangan kepastian kerja, pedagang kehilangan pembeli. Ini pukulan langsung bagi ekonomi masyarakat,” ujarnya.

GAMPI Gebe mendesak pemerintah pusat segera mengevaluasi kebijakan tersebut dan mengembalikan kuota RKAB ke kondisi normal. Mereka menilai langkah itu krusial untuk mencegah gelombang kehilangan pekerjaan dan menjaga stabilitas ekonomi lokal.

Aspirasi itu juga ditujukan kepada anggota DPR RI Komisi XII yang membidangi energi dan pertambangan, Shanty Alda Nathalia. GAMPI berharap persoalan RKAB Pulau Gebe dapat segera dibawa ke pembahasan serius di tingkat nasional.

Menurut Ibnu, latar belakang Shanty Alda Nathalia yang pernah berusaha di Pulau Gebe menjadi alasan kuat bagi masyarakat untuk berharap. “Beliau memahami kondisi lapangan. Kami berharap ada perjuangan nyata di pusat agar RKAB dinormalisasi dan ekonomi kembali bergerak,” katanya.Sabtu (2/5/202)

GAMPI menegaskan, normalisasi RKAB bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan keberlangsungan hidup masyarakat. Mereka menilai pemulihan aktivitas tambang akan memberikan kepastian kerja bagi buruh sekaligus menghidupkan kembali ekonomi daerah.

Momentum May Day 2026 menjadi penegasan pesan dari Pulau Gebe: kebijakan nasional tidak boleh mengabaikan dampak langsung terhadap rakyat di daerah. Bagi warga Gebe, RKAB bukan sekadar angka, melainkan penentu hidup dan masa depan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *